About Us

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam. Etiam augue pede, molestie eget, rhoncus at, convallis ut, eros. Aliquam pharetra. Nulla in tellus eget odio sagittis blandit. Maecenas at nisl. Nullam lorem mi, eleifend a, fringilla vel, semper at, ligula. Mauris eu wisi. Ut ante dui, aliquet nec, congue non, accumsan sit amet, lectus. Mauris et mauris. Duis sed massa id mauris pretium venenatis. Suspendisse cursus velit vel ligula. Mauris elit.....read more

Jumat, 11 Februari 2011

Berbicara

Berbicara

Belajar berbicara bahasa asing membutuhkan lebih dari sekedar mengetahui aturan tata bahasa dan semantiknya. Pembelajaran juga harus mengetahui bagaimana penutur asli menggunakan bahasa tersebut dalam konteks yang benar.
Untuk mengembangkan kompetensi kemampuan berbicara, perlu menguji faktor apa saja yang mempengaruhi komunitasi lisan para pembelajar dewasa, komponen-komponen kemampuan berbicara dan strategi-strategi khusus yang digunakan komunikasi (richard dan renandya, 2002). Brown (dalam richard renedya, 2002) mengemukakan bahwa sebagai belajar bahasa asing, sulit untuk membiasakan berbicara dalam bahasa tujuan yang dipelajari, karena komunikasi lisan yang efektif membutuhkan kemampuang menggunakan bahasa tersebut secara tepat interaksi sosial. Perbedaan dalam interaksi tidak hanya melibatkan komunikasi verbal, tetapi juga elemen-elemen paralinguistik dari sebuah percakapan seperti tekanan dan intonasi.
Prijosaksono (http/www.inline.or.id) mengemukakan berbicara di depan publik merupakan salah satu seni berkomunikasi. Ada 5 komponen atau unsur penting dalam berkomunikasi. Kelima unsur tersebut adalah (a) pengirim pesan(sender), (b) pesan yang dikirim (message), (c) bagaimana pesan tersebut dikirim (delivery chanel atau medium), (d) penerima pesan (receiver), dan (e) umpan balik (feed back). Kelima unsur tersebut merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan erat agar pembicaraan dapat berjalan dengan baik.
Tujuan utama dari berbicara adalah untuk berkomunikasi. Penyampaian informasi dengan efektif sebaikbya pembicaraan betul-betul isi pembicaraannya. Di samping itu, pembicara juga haris dapat mengevaluasi komunikasinya terhadap pendengar. Jadi, bukan hanya isi pembicaraan saja, tetapi bagaimana cara menyampaikannya.

Dasar-Dasar Pengembangan Keterampilan Berbicara
Untuk dapat mengembangkan materi ketermpilan berbicara pengajar perlu mengenal tipe-tipe latihan yang dapat membantunya membuat latihan yang sesuai. Piepho (1987, dalam neuner dan hans, 1981) membagi tipe-tipe latihan menjadi 3 bagian, yaitu (1). Latihan untuk persiapan pengembangan keterampilan berbicara, (2) latihan untuk mengembangkan keterampilan berbicara, (3) latihan untuk menyusun kemampuan berbicara, dan (4) latihan untuk melakukan simulasi komunikasi secara lisan.
Selain itu munkel dan roland (1994) membagi kriteria tindak tutur menjadi dua bagian dari tindak tutur, yaitu (1) kontruksi, transformasi, dan ekskusi bukan hanya berhubungan dengan metodik tetapi juga bagian dari komunikasi nyata. Di dalam mengembangkan latihan sebaiknya pebelajar memulai dengan tahapan eksekusi (latihan menirukan), kemudian lanjut pada latihan transformasi dan pada akhirnya pebelajar diharapkan dapat mengontruksi sendiri isi pembicaraanya, (2) cara lain yang ditawarkan adalah dengan menggunakan gambar. Munkel dan roland (1994) membandingkan susunan dari materi keterampilan berbicara sama dengan susunan dari sebuah rumah. untuk menyusun materi keterampilan berbicara, yang di perlukan tidak hanya materi dan bagian-bagiannya. Melainkan juga alat untuk menyusun percakapan.
Untuk dapat mengembangkan latihan-latihan keterampilan berbicara disarankan untuk memperhatikan hal-hal berikut ini (dalam seminar handbuck untuk multiplikator, 2002):
1. Menyimak
latihan berbicara dapat dikembangkan dengan kombinasi latihan mendengar.
2. Memperhatikan
adalah hal yang tidak mungkin jika pebelajar dapat mendengarkan semua hal jika orang berbicara terlalu cepat. Selain itu sering didapati suara-suara gangguan di sekeliling yang dapat mengganggu konsentrasi, karena dengan konsentrasi yang baik pebelajar dapat memahami bentuk, isi, dan gramatika dari sebuah teks. Tetapi jika pebelajar sudah mempunyai informasi awal mengenai tema tertentu, dia akan dapat memahami teks dengan lebih baik.
3. Rutinitas
berbicara sempurna adalah hal yang tidak mungkin, sekalipun oleh seorang penutur asli. Dalam kehidupan sehari-hari orang akan berbicara berdasarkan kebiasaan yang ada dan disesuaikan dengan konteks keseharian, oleh sebab itu pebelajaran akan lebih mudah mempelajari kosa kata baru yang berhubungan dengan kehidupan nyata dan minat pada bidang tertentu.
4. Itensi Bahasa dan Menngunakan yang Kreatif
belajar berbicara yang terbaik adalah dengan berbicara. Latihan berbicara tidak hanya dilakukan secara individu, tetapi dengan parter dan dalam kolompok. Suatu hal yang harus diperhatikan untuk menghadapi kelas yang besar adalah gengan kerja kelompok atau partner. Meskipun demikian kerja kelompok tidak menjamin pebelajaran dapat berlatih berbicara dengan bebas.
5. Kombinasi pada Beberapa Latihan Keterampilan Berbicara
latihan yang dikembangkan untuk keterampilan bebicara sebaiknya dipersiapkan sebaik mungkin, beberapa kombinasi yang mungkin adalah :
• Dari keterampilan mendengar ke keterampilan berbicara
• Dari keterampilan membaca ke keterampilan menulis
• Dari keterampilan berbicara ke keterampilan menulis
• Hindari memulai dengan keterampilan membaca ke keterampilan berbicara
6. Pembelajaran yang Mengakibatkan Esmosi
untuk membuat pembelajaran menarik diperlukan pemilihan tema yang disukai oleh pebelajar, yaitu tema yang berhubungan dengan pebelajar dan sesuai dengan budaya yang berlaku. Selain itu sebaiknya dihindari rasa takut untuk berbicara. Hal itu dapat diantisipasi dengan latihan dalam kolompok kecil, dan pebelajar sebaiknya tidak memaksa pebelajar untuk berbicara dan mengoreksi setiap kesalahan yang dilakukan. Koreksi sebaiknya dilakukan pada tahap refleksi dan evaluasi.

Mengembangkan Dan Penilaian Kompetensi Berbicara
Menurut munkel dan roland (1994) latihan-latihan yang diperlukan untuk membangun komunikasi sebaiknya memenuhi aspek-aspek berikut ini:
  1. Latihan-latihan tersebut dapat mengarahkan pebelajaran untuk berbicara dengan menggunakan gramatika yang benar.
  2. Memerankan dialog berdasarkan model dialog dan kata-kata kunci yang diberikan. Sebaiknya pebelajar tidak membacakan dialog yang telah dibuat, tetapi memerankannya dengan bebas dengan tambahan variasi.
  3. Sebagai lanjutan dari no 2, pebelajar di harapkan mengontruksi dialog dari tes basis yang diberikan tidak hanya berdasarkan isi dan jalannya dialog, tetapi juga harus memperhatikan ungkapan yang sesuai dengan situasi dan memformulasikannya secara konkrit.
  4. Dalam latihan model latihan berkomunikasi seperti yang dijelaskan di atas. Diharapkan pebelajar juga mempunyai kesempatan untuk mengemukakan pendapat dan berdiskusi.
  5. Semua jenis bentuk latihan diatas sebaiknya dapat digunakan sebagai jembatan untuk masuk ke dalam suatu tema atau untuk menceritakan gambar dan menggambarkan sebuah grafik.
Apabila aspek-aspek di atas sudah terpenuhi, latihan-latihan yang telah dibuat diharapkan benar-benar dapat membatu pebelajar berbicara bahasa jerman dengan bebas tanpa rasa takut. Disamping itu sebagai umpan balik bagi pebelajar, apakah proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan yang diharapkan dan mengetahui sejauh mana kemampuan berbicara pebelajar diperlukan cara penilaian yang benar.
Tschirner (dalam seminarhandbuch untuk multiplikator, 2002) mengemukakan bahwa untuk nilai kemampuan berbicara pembelar sebaiknya memberikan penilaian yang jelas dan mudah di pahami.
Selain itu kegiatan penilaian seharusnya dilakukan didalam proses belajar. Hal ini berarti bahwa tes adalah sebagian dari akrivitas berbicara di kelas. Karena pembelajar berpusat pada pebelajar, pembelajar sebaiknya dapat memotivasi pebelajar untuk dapat melakukan evaluasi sendiri terhadap proses belajar yang dialaminya sehingga koreksi kesalahan tidak haya dari pembelajar.

Prinsip-Prinsip Latihan Pelafalan
Belajar bahasa asing berarti juga belajar bagaimana penutur asli berbicara dan melafalkan kata-kata bahasa yang di pelajari. Tshcirner (dalam seminarhandbuch untuk multiplikator, 2002) memberikan prinsip-prinsip pembelajaran pelafalan bahasa asing. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagia berikut:
  1. Pembelajaran harus bisa membedakan antara ucapan, tekanan, dan intonasi dari bahasa yang dipelajari.
  2. Latihan pelafalan kata-kata dilakukan secara komunikatif dan dalam konteks.
  3. Dalam berlatih pelafalan sebaiknya pebelajaran tidak hanya menirukan, melainkan harus bisa meresponnya melalui macam-macam aktivitas yang dilakukan misalnya bertepuk tangan, memilih jawaban yang benar, dan menulis.
  4. Pengajar seharusnya mengoreksi kesalahan dengan halus, sehingga pebelajar tidak menjadi takut atau berlati dan melakukan kasalahan dengan halus, sehingga pebelajar tidak menjadi takut untuk berlatih dan melakukan kesalahan.
Dengan memperhatikan prinsip-prinsip diatas diharapkan latihan pelafalan yang menjadi bagian dari keterampilan berbicara tidak diabaikan.

Fungsi Buku Ajar Dalam Pengajaran Bahasa Asing
Green dan petty (1971) mengemukakan enam fungsi buku ajar atau buku teks yaitu (1) mencerminkan suatu sudut pandang tertentu mengenai pengajaran dan mendemondstrasikannya dalam bahan pengajaran yang disajikan (2) menyajikan sumber pokok bahasan yang lengkap, mudah dipahami dan bervariasi sesuai kebutuhan dan minat siswa (3) menyajikan sumber belajar dan pengajaran yang tersusun secara logis dan sistematis, (4) menyajikan strategi dan sarana pelajaran yang dapat memotivasi siswa, (5) menyajikan fisasi (perasaan yang mendalam ) awal yang perlu dan sebagai penunjang bagi latihan dan tugas-tugas praktis, dan (6) menyajikan bahan sarana evaluasi dan remedial yang serasi dan tepat guna.
Dalam buku ajar perlu dikembangkan dan tugas-tugas dan latihan yang akan digunakan pebelajaran dalam proses pembelajaran. Tarigan dan tarigan (1986) mengemukakan bahwa latihan-latihan dalam buku kerja seharusnya memenuhi prinsip-prinsip (1) latihan sesuai dengan program keterampilan berbahasa yang perlu untuk setiap tingkatan, (2) tipe latihan yang beraneka ragam sesuai kebutuhan dan minat siswa, (3) latihan mudah dipahami dan pebelajaran mengetahui mengapa harus mengerjakan latihan tersebut, (4) bahan latihan bukanlah tujuan akhir dari proses belajar, melainkan merupakan sarana untuk mencapai tujuan pembelajaran selain itu buku ajar merupakan sarana yang mutlak diperlukan dalam proses belajar mengajar di semua jenjang pendidikan.
Dalam sebuah penelitiannya Quetz (1976) membuktikan bahwa buku ajar memberikan kontribusi terbesar (82 %) diantara faktor-faktor yang lain dalam menentukan keberhasilan suatu pembelajaran bahasa asing. Dapat dikatakan bahwa pengajaran bahasa asing yang baik memerlukan sebuah buku ajar yang baik pula.
Seorang pembelajar yang berpengalaman akan segera dapat membayangkan situasi pengajaran dengan buku tertentu berdasarkan latihan-latihannya. Apakah dengan buku tersebut akan terlaksana situasi pengajaran yang menarik/membosankan, bervariasi atau kaku (neuner dkk, 1981).
Adapun tipologi latihan untuk pembelajaran yang komunikatif dalam sebuah buku ajar adalah sebagai berikut: (1) mengembangkan kemampuan berkomunikasi, latihan pemantapan bentuk/kerangka berkomunikasi berdasarkan situasi/peran tertentu secara produktif/produktif dengan bentuk latihan (a) dialog terbuka, (b) mengkombinasi/mensubtitusi unsur kalimat dan mensempurnakannya, (c) mebuat teks paralel, dan (d) membuat dialog dengan menggunakan ujaran-ujaran yang tersedia (2) pengembangan keterampilan berkomunikasi secara bebas dengan cara berlatih menerapkan pengetahuan yang didapat, cara berinteraksi dalam lingkungan sosial, dan kemampuan berbahasanya baik melalui latihan-latiahan yang terarah maupun yang agak bebas misalkan (a) membuat tanggapan yang spontan, (b) memberi argumentasi atas pendapat sendiri dengan tabel ujaran.
Supaya pelajaran atau latihan yang berlangsung secara efektif, hal-hal berikut ini perlu dilakukan: (a) membuat latiahan yang tepat dan sesuai tingkat kesukaran pebelajar, (b) menentukan langkah-langkah kerja metodis yang menarik dan terarah dalam suatu latihan, (c) menempatkan suatu latihan sesuai dengan tujuan, isi, dan kebutuhannya. Semua ini menuntut penguasaan atas klasifikasi latihan serta pengetahuan tentang peran dan posisi suatu latihan dalam buku ajar untuk proses belajar mengajar. Penentuan yang tepat atas peran dan posisi setiap latihan dalam keseluruhan sistemnya dapat menghindarkan penyajian latihan yang diatas atupun dibawah kemampuan pebelajaran.

0 komentar:

Poskan Komentar